petani humbahas telah memiliki budaya bertani yang di wariskan turun termurun sehingga tidak cocok dengan pertanian ala food estate.
Doloksanggul, Protapnews.com_ Tiga tahun menjelang empat tahun bergulir sejak dibuka tahun 2020 proyek Food Estate kini menemukan bentuknya yang sesungguhnya. Perjalanan waktu dengan banyak upaya yang telah ditempuh berproses dari satu langkah demi langkah melalui mekanisme kerja yang telah di canangkan oleh kemenko marves sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk mengtasi krisis pangan dan kelangkaan sumber pangan nasional, namun pada akhirnya sangat jauh dari kata berhasil.
Kini hamparan luas ratusan hektar yang dahulu pernah menjadi daerah yang paling padat dan ramai pada masa awal pembukaan program Food Estate kembali menjadi hamparan luas seolah tak bertuan, tidak terlihat lagi ratusan alsintan traktor dan alat alat berat lainnya, tidak terlihat lagi ribuan orang yang memadati setiap jengkal hamparan tanah pertanian itu. Hamparan yang dahulunya adalah hutan dan semak belukar dibuka secara masiv digenjot dengan serbuan berbagai inovasi pertanian kini telah kembali kebentuk semula, belantara arsam tumbuhan pakis daerah Humbahas.
Lokasi 215 ha Food Estate Ria-ria yang dikembangkan pada tahap pertama kini terbengkalai menjadi gambaran nyata bahwa sistem pertanian berbasi lumbung pangan dengan dana besar yang di gelontorkan oleh pemerintah pusat ternyata tidak cocok dikembangkan untuk wilayah kabupaten Humbang Hasundutan. Harus diakui lumbung pangan menurut konsep pertanian terbarukan beserta berbagai inovasi di dalamnya ditopang oleh pendanaan besar dari pemerintah serta disain awal yang sangat sempurna seharusnya food estate adalah sebuah langkah besar yang memiliki potensi luar biasa untuk menjadi lumbung pangan dan basis pengembangan produk pertanian.
Satu-satunya keberhasilan Food Estate saat ini adalah berhasil membangun infrastruktur jalan, embung, bangunan-bangunan pendukung, green house, saluran irigasi, listrik, gudang-gudang penampung hasil namun gagal membangun pertanian itu sendiri dan gagal menciptakan petani yang memiki daya produktivitas, komitmen dan motivasi bertani.
Kegagalan ini terjadi bukan karena konsep pertanian Food Estate yang tidak baik melainkan karena persoalan internal dan tidak adanya sosialisasi serta riset awal sebelum dana digelontorkan dan proyek ini terkesan di paksakan, terburu-buru lebih mengedepankan pencapaian target proyek daripada tujuan baik menuju keberhasilan sehingga setiap pekerjaan dilaksanakan asal jadi.
kedatangan Food Estate sesunguhnya membawa misi perubahan, merubah pertanian konvesional menjadi pertanian modern yang menggunakan tehnologi dan mekanisasi serta inovasi-inovasi terbarukan namun “petani humbahas telah memiliki budaya bertani yang di wariskan turun-temurun sehingga tidak cocok dengna pertanian ala Food Estate”
Menurut pemantauan dan anlisa tuntas mendalam yang telah dilakukan sejak awal proyek bergulir hingga sekarang maka dapat disimpulkan beberapa sebab kegagalan pertanian Food Estate sebagai berikut:
- Petani di Kabupaten Humbang Hasundutan adalah heterogen : petani yang tidak terbiasa melakukan pertanian homogen pada satu jenis tanaman monokultur tetapi petani melakukan pertanian pada semua jenis komoditi yang berhubungan langsung dengan kebutuhannya yaitu padi sawah, Kopi, Kemenyan, Andaliman, tanaman sayuran, tanaman buah dll, kemudian ngangon kerbau atau sapi dan memberi makan ternak babinya sehingga tidak bisa fokus pada satu jenis komoditi saja terus menerus.
- Petani di kabupaten humbang hasundutan tidak tercentralisir : areal pertanian petani tersebar dan terpisah dibeberapa tempat, Padi di Sawah, Kopi di Kebun, Kemenyan di Hutan, Andaliman di pekarangan sebagian tupang sari dengan kemenyan, Tanaman sayuran menyatu dengan tanaman buah, sehingga petani tidak bisa melakukan kegiatan bertaninya terpusat hanya pada satu tempat.
- Petani tidak memiliki kemampuan untuk mengelola pertanian luas hingga mencapai 1 ha sampai 2 ha baik dari segi permodalan, sumber daya manusia, karyawan, pengetahuan dan management. Sehingga program penanaman Food Estate yang mengharuskan 2 ha tiap keluarga sangat memeberatkan meskipun di danai dari hulu hingga ke hilir.
- Banyak petani yang menyerah dan memilih tidak ikut serta dalam program tersebut dan menyerahkan tanahnya untuk ikut dalam program food estate kemudian di kerjakan oleh pihak lain dari luar daerah sehingga memakan cost yang semakin besar dan kemudian gagal juga.
- Petani Humbang Hasundutan bersifat individu dan sangat sulit menjadi bagian dari koorporasi petani yang di agendakan dalam pelaksaan program Food Estate. sementara program ini dilaksanakan dalam bentuk koorporasi petani dengan sistem management terpusat.
- Gagal panen dan tidak adanya penanganan pascapanen serta distribusi pemasaran pada saat panen perdana di periode pertama menyebabkan anjloknya harga bawang hingga Rp 7000/kg apalagi ketika ratusan hektar lahan melakukan pemanenan dalam satu waktu membuat petani merasa skeptis dan kehilangan harapan untuk memperbaiki kehidupan dari progam Food Estate, dan untuk periode kedua lebih banyak petani yang kembali pada pertanian konvensionalnya dari pada bertanam bawang di Food Estate karena sudah tidak percaya program ini akan berhasil.
- Timbul persoalan baru dan konflik agraria sesama warga tentang tapal batas dan kepemilikan karena kebanyakan lahan bukaan baru tidak memiliki batas-batas yang jelas sebelumnya sehingga banyak yang mengklaim satu hamparan sebagai miliknya masing-masing.
- Kemudahan mendapatkan dana pinjaman KUR dengan menggunakan sertifikat tanah yang di fasilitasi langsung menjadi momok menakutkan bagi petani yang belum terbiasa mengelola usaha pertanian mengandalkan kredit Bank apalagi dengan cash flow yang tidak jelas tiap bulannya.
saat ini pertanian yang ada di Food Estate tidak lagi dilakukan oleh petani pemilik lahan itu sendiri melainkan langsung dikelola oleh pihak Marves dengan sistem sewa tanah pertahun, dan seluruh fasilitas irigasi dan embung tidak berfungsi. Menurut salah satu petugas lapangan “semua fasilitas terutama pengairan hanya akan berfungsi pada saat kunjungan para petinggi dari jakarta, setelah selesai kunjungan semuanya kembali tidak beroperasi…”
Saalah sorang petani berinisial RL mengatakan “bertani di FE ini memiliki resiko gagal yang sangat besar, bayangkan jika kita menanam bawang 1 ha, maka kita butuh karyawan minimal 10 orang tiap hari mulai dari penanaman sampai perawatan, katakanlah kita berhasil panen tetapi semua lahan yang ratusan hektar ini juga panen otomatis harga langsung anjlok bahkan bisa jadi tidak laku. kita memang bersyukut tanah kita diberi fasilitas sertifikat gratis dan kita diberi kemudahan untuk meminjam, jika kita meminjam Rp 150 000 000 sementara kejelasan panen tidak ada, ketetapan harga juga tidak ada. apa ngak sakkot rukkung ini selamanya bayar hutang…?, sementara pertanian kita yang sesunguhnya di tinggalkan gara_gara ini tinggal haminjon, tinggal andaliman, babi dang mangan,horbo male male hauma dang hona baboan, maup ma timba tu dolok?” ucapnya merasa ngeri menanggung beban hutang besar sementara cashflow tidak ada.
“Jadi lebih baiklah kita menjadi buruh harian seperti ini, kita sewakan lahan kita Rp 1 500 000 pertahun dan kita menjadi buruh harian lepas dengan gaji Rp 100 000 per hari itu lebih pasti tanpa tuntutan hutang dan lebih menjanjikan daripada omong besar hasil luar biasa sementara resiko jauh lebih besar…” sambungnya.
Dan hingga saat ini Food Estate menjadi proyek pertanian yang dikerjakan langsung oleh pihak Marves dan masyarakat sekitar menjadi buruh harian lepas tidak ada yang berani terjun untuk melakukan pertaian dengan resiko besar. bahkan sebagian petani yang telah menggunakan fasilitas pinjaman modal dari bank melalui sertifikat tanah yang diterbitkan akhirnya harus berjibaku setiap bulan melunaskan hutangnya.
Namun apa yang terlihat dalam pemberitaan media-media nasional dan media lokal bahwa Food Estate selalu berhasil dan menjadi solusi pertanian untuk menjadi lumbung pangan dalam tujuannya meningkatkan ketahanan pangan dan kedaulatan pangan nasional sungguh berbeda dengan apa yang ada di lapangan.
penulis : hlg